Puasa tidak lama lagi akan segera usai, lebaranpun akan segera tiba. Segeralah segala rutinitas hari raya itu dimulai. Pertama-tama tentunya mudik. Bagi yang kampung halamannya jauh, mudik memerlukan waktu yang tidak sedikit, tenaga yang banyak dan tentunya persediaan uang yang lumayan besar pula. Bagi yang kampung halamannya dekat mudik bisa dilakukan kapan saja, walaupun sudah mepet. Tapi maknanya tetaplah sama ingin melewati hari yang indah dengan ibadah yang penuh khidmat itu di tanah yang dicinta dengan orang-orang tercinta pula.
Kemaha-kuasaan Allah yang membuat semua keindahan pada hari lebaran terjadi. Pada hari itu, sepertinya wajah Allah sumringah melihat kebaikan menyelimuti seluruh permukaan bumi. Rezeki yang cukup dari sikap murah hati orang-orang yang berkecukupan, persaudaraan terjalin dan ampunan begitu mudahnya diberikan.
Lebaran telah membuat langkah yang berat menjadi ringan, jarak yang jauh menjadi dekat, hati yang terkunci menjadi terbuka, yang terlupakan menjadi teringat lagi, yang telah tiada termohonkan ampun untuknya, yang masih ada tersampaikan maaf padanya. Anak bersimpuh di pangkuan orang tua, dan orang tuapun merangkul semua anak keturunannya dengan bahagia yang penuh meluap-luap. Yang dekat menyentuh, yang jauh cukuplah dengan menyapa. Suami istri saling bermaafan, sepasang kekasihpun saling memaafkan, bocah-bocahpun saling memaafkan walaupun setelah itu berantem lagi.
Orang Jawa akan bilang: “Dhahar kupat kuahipun santen, manawi wonten lepat nyuwun pangapunten.” Orang Sunda mengucapkan: “Bilih kantos nyungkelit dina ati, teu genah dina manah, kasiku catur katajong omong, ku pribados mugi dihapunteun.” Yang dijawab dengan tidak kalah halusnya: “Hatur nuhun, sawangsulna, bilih kantos kasisit sebit kana ati, kapancah kalengkah ucap, kapancut kababuk catur, tawakupna kasuhun mugi jembar pangapunteun.” Semuanya mengandung arti bahwa sang pengucap menyampaikan dari dalam hatinya yang dalam permohonan maaf atas setiap khilaf, semua dosa, seluruh keliru yang pernah dilakukannya.
Ah, memang lebaran membuat lapang dada yang sesak, meneduhkan mata yang nanar, menyunggingkan senyum dibibir yang muram. Mendekatkan yang jauh, mengeratkan yang sudah dekat. Menyingkirkan kata-kata kasar dan mengantinya dengan ucapan-ucapan yang halus. Maaf yang begitu mudah diberikan walaupun tidak diminta. Menghapus walaupun hanya sementara perbedaan kelas dan derajat. Lebaran seperti kunci untuk pintu rejeki yang banyak. Orang-orang kaya menjadi dermawan dan orang-orang miskin tidak tahu dari mana sumbernya tiba-tiba saja bisa membeli pakaian baru dan makanan yang bergizi. Memang lebaran sesuatu yang luar biasa, wajarlah kalau adanya hanya setahun sekali.
Kepada seluruh mata yang kadang memperhatikan hiasan dan tulisan rumah ini, walaupun lebaran masih beberapa hari lagi, karena ada rasa takut tidak adanya kesempatan menyampaikan ucapan selamat dikarenakan sudah masuk liburan dan akan jarang menjenguk rumah ini lagi untuk sementara waktu, kami, bumi dan langit, juga menyampaikan ucapan selamat Iedul Fitri 1429 H Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Karena diantara pembaca pasti ada yang tersinggung, sedih atau terluka hatinya karena tulisan-tulisanku di rumah ini.
Sampai sini saja dulu semoga lebaran kali ini memberi juga banyak kedamaian dihati kita, amin. Sebelum lupa, yi, aa mohon maaf atas segala salah dan dosa padamu yang pasti saja ada. Mohon maaf lahir dan batin.





Alex berjalan dengan mata lebam pagi itu, apalagi bagian mata sebelah kirinya terlihat agak semu hijau keungu unguan karena luka memar, seperti biasanya remaja keturunan Padang-Jawa ini berkelahi dengan anak anak sekolah seberang yang sudah menjadi musuhnya sejak kelas satu SMU, dan tentu saja seperti biasanya pertengkaran itu berbuah amarah kekesalan dari sang ayah malam tadi, dia dipukuli beberapa kali hingga merangung raung kesakitan. Pemandangan seperti ini sudah tidak aneh lagi bagi sebagian teman sekelasnya bahkan dengan teman sekolahnya yang lain.





